Examine Your Worship

Tema “Worship” tidak pernah habis-habisnya dibicarakan oleh jemaat Kristen baik dari gereja konservatif sampai gereja “emerging”. Sayangnya, perbincangan “Worship” yang kelihatan menarik itu hanyalah membicarakan sebuah permasalahan aplikatif yaitu boleh atau tidak, khususnya dalam pemakaian lagu-lagu kontemporer dan alat musik kontemporer dalam gereja. Worship bukanlah sebuah aktivitas rohani yang kita kerjakan di gereja dalam waktu 1-2 jam saja. Dalam Markus 12:28-33, Tuhan Yesus memberikan perintah: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan segenap akal budimu dan dengan segala kekuatanmu … Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini”. Pernahkah setiap kita mengutamakan definisi dari kebenaran ini lebih daripada urusan musik?

Dalam Bahasa Ibrani, istilah “Worship” memakai istilah “Shachah” artinya to bow down. Dalam bahasa Yunani, istilah “Worship” memakai istilah “'προσκυνέω- Proskuneo”. Menurut New American Standard Bible, “Proskuneo” diterjemahkan menjadi “to bow down, bow down before and bowing before” atau secara literal “to blow a kiss.” Dalam Injil Matius 28:9 “memeluk kaki-Nya” dan Markus 15:19 “sujud menyembah-Nya”, bagian ini bukan dipahami secara literal tetapi menunjukkan respon anak-anak Tuhan di hadapan Allah untuk “giving honor and respect to God” (Kejadian 19:1, Keluaran 18:7). Dalam kebudayan Tiongkok dan Jepang, tradisi “giving honor and respect” adalah kehormatan tertinggi bagi mereka. Jika ada tradisi asing masuk ke dalam kehidupan mereka, kewaspadaan penuh disiagakan demi kelestarian tradisi yang mereka hormati. Hari ini, bagaimana kita orang Kristen memandang “Worship” kita? Apakah kita betul-betul tersungkur di hadapan Tuhan dan memberikan penghormatan dan penyembahan kepada Allah dengan penuh kewaspadaan terhadap dunia? Atau kita menjalankan ibadah dengan “pokoknya” beribadah kepada Allah? Dalam keluaran 30:34, Allah berfirman kepada Musa “Ambillah wangi-wangian, yakni getah damar, kulit lokan dan getah rasamala, wangi wangian itu serta kemenyan yang tulen, masing-masing sama banyaknya.Semuanya ini haruslah kaubuat menjadi ukupan, suatu campuran rempah-rempah, seperti buatan tukang campur rempah-rempah, digarami, murni dan kudus…”

Pertama, Worship adalah mengenai apa yang Tuhan mau, bukan yang manusia suka. Kita sering datang bukan untuk mencari Tuhan dan Kebenaran-Nya, melainkan mencari fasilitas gereja yang baik untuk kita, mencari suasana ibadah yang baik buat kita pribadi, mencari program gereja yang bagus dan menarik untuk diikuti, mencari kenikmatan kursi empuk dalam kebaktian. Pertanyaannya adalah : apakah Tuhan berkenan atas motivasi seperti itu?

Kedua, Worship tanpa kekudusan tidak diperkenan Allah. Di manakah kekudusan dalam Worship kita semua hari ini? Kita terlalu santai dan longgar dalam menjalankan Worship kepada Allah yang kudus. Ada yang mengatakan, “tidak ada standar mutlak yang kita tanamkan dalam Worship kita kepada Tuhan, pokoknya Tuhan lihat hati dan motivasi kita.” Apakah itu cukup? Tidak! Ikut standar Tuhan maka kita baru dapat melayani dengan hati dan motivasi benar.

Ketiga, Ibadah dimulai dari hati yang hancur dan penuh penyesalan di hadapan Allah. Kesadaran diri berdosa adalah seruan pembongkaran diri kita di hadapan Allah bahwa kita manusia berdosa yang datang kepada Tuhan, bukan karena manusia dapat menemukan Allah, justru Allah telah datang terlebih dahulu dan menemukan kita. Kenapa kita harus melakukan pengakuan dosa setiap kita beribadah di dalam gereja? Justru kita harus mengenal Allah dan diri kita secara seiring maka kita akan mengingat perbedaan kualitatif antara Allah dan manusia, sehingga kita belajar untuk rendah hati menyembah Allah.

Keempat, Allah layak menerima pelayanan yang terbaik, termasuk dalam musik. Pemimpin Ibadah dan pemimpin pujian harus memiliki roh yang sama melayani Tuhan, hikmat, pengertian, pengetahuan dan skill untuk mengerjakan pelayanan. Mereka harus tahu pelayanan musik yang terbaik dan instrumen musik yang terbaik, bukan yang menurut mereka baik. Bukan melayani dengan apa yang mereka bisa saja, tetapi belajar menyangkal diri untuk belajar memberikan yang lebih baik kepada Tuhan.

Kelima, Worship tidak dipakai untuk hiburan ataupun bisnis. Hiburan maupun bisnis memiliki potensi besar menjadi allah lain di dalam kehidupan kita sebagai manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Justru dalam hukum Taurat, Perintah 1 berbunyi “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku”. Salah satu bagian dalam Worship yang memiliki potensi menjadi allah dalam hidup kita adalah musik. Penekanan Worship kepada Allah adalah baik tetapi tidak menekankan Firman Tuhan lebih utama, itu tidak benar! Alkitab menyatakan tugas setiap nabi dan rasul bukan untuk “praise and worship” tetapi mengajarkan Firman Tuhan, memberitakan Firman Tuhan, menggembalakan dengan Firman Tuhan. Inilah substansi “Worship” yang sebenarnya. Saat ini banyak anak muda tidak rela menerima konsep substansi yang kaku ini. Mereka lebih suka “Worship” dihubungkan dengan style “spirit of sharing the Word of God” dengan pengalaman pribadi dan perasaan mereka sebagai pemuda Kristen. Dalam hal ini, musik menjadi sarana mereka untuk mengekpresikan “Worship” menurut pengalaman dan emosi mereka. Ini salah kaprah! Justru Yesus mengajarkan bagaimana penyembah yang benar harus menyembah dengan Roh dan Kebenaran (Yohanes 4:23). Dalam hal ini, “Worship” harus selaras dengan “The Word of God”. Jika saudara melihat ke dalam sejarah musik gerejawi, saudara akan menemukan bahwa komponis-komponis Hymn adalah pendeta yang resmi (Charles Wesley, John Newton, Horatius Bonar, Issac Watts, dan lain-lain) dan kaum awam yang memiliki “theological learning” (Fanny Crosby, Kenneth Morris, Albert Osborn, dan lain-lain). Jadi, musik bukan hanya dihasilkan dari melodi melankolik dan rythmn mereka tetapi bagaimana Roh Kudus memimpin pikiran dan emosi mereka, memimpin mereka untuk menulis komposisi musik bagi kemuliaan nama Tuhan selaras dengan Alkitab. Puji Tuhan! Belajarlah dari sejarah maka kita akan banyak menemukan musik Hymn jauh lebih doktrinal daripada sebagian besar musik kontemporer hari ini.

Dalam teologi Reformed, pertama, definisi Worship harus bersumber pada Allah sebagai sumber ibadah karena manusia dapat menyembahNya, bukan karena full inisiatif manusia tapi karena Allah menganugerahkannya kepada kita sehingga kita dapat melakukan aksi ibadah kepada Tuhan. Problemnya adalah sejak manusia jatuh ke dalam dosa, manusia punya kecenderungan untuk jatuh ke dalam kesalahan dalam menginterpretasi konsep worship. Hari ini kita melihat perbedaan kualitas antara worship dari Kain dengan worship dari Habel. (Kejadian 4:1-16). Secara umum, kita mengetahui bahwa Kain memberikan worship dengan setengah hati, persembahan dia kepada Allah ditolak. Sedangkan, Habel memberikan worship dengan sepenuh hati, persembahannya diterima oleh Allah. Pertanyaan yang muncul dalam benak saya adalah bukankah mereka dididik dalam keluarga yang ‘takut akan Allah’? Sama-sama hidup 24 jam dan hidup dalam didikan Adam dan Hawa, namun pikiran, ucapan, tindakan dan akibat yang menjadi respon Kain dan Habel berbeda.


Mengapa persembahan Kain ditolak oleh Allah?

Pertama, Kain memberikan persembahan kepada Allah dengan konsep setengah hati. Seringkali kita tahu Ibadah adalah sakral maka setiap konsep Ibadah harus mengikuti konsep kesakralan Allah. Banyak orang Kristen berbicara “pokoknya hati yang paling penting”, cara apapun terserah karena Tuhan berkenan atas semua cara. Permasalahannya ialah banyak orang punya hati yang baik tetapi caranya salah, terkadang hal tersebut justru bukan semakin membangun orang lain, melainkan dapat merusak hidup orang lain. Dalam hal ini, kita harus berdoa kepada Tuhan memohon kepekaan untuk menekuni ibadah dengan mempersembahkan persembahan yang terbaik kepada Tuhan dengan berpusat terhadap prinsip Firman Tuhan.

Kedua, Worship Kain hanya dipahami sebagai ritual yang telah menjadi kebiasaan. Rutinitas seringkali membuat para pelayan Tuhan kurang sungguh-sungguh melayani Tuhan karena anggapan mereka telah “fasih” dalam keseharian mereka dalam pelayanan. Ketergantungan diri kepada Tuhan sudah bukan menjadi pengertian awal mereka dalam melayani Tuhan. Alkitab mengajarkan bahwa “you are not something, you are nothing, but God is everything. All you need is God Himself”. Jadi kita mempertanggungjawabkan rutinitas kita dalam pelayanan sebagai tuan atas rutinitas yang bertanggungjawab kepada Allah, bukan budak dari rutinitas.

Ketiga, Seringkali kita terikat dengan “comfort zone” atau “menara gading” kita sehingga pelayanan kita menjadi redup karena kita tidak mampu melihat hidup lebih luas, dalam, menyeluruh dan lebih indah. Tentu saja dalam hal ini, kedinamisan dalam pelayanan menjadi penting tetapi bukan liar seperti apa yang dipahami oleh emerging church. Justru prinsip Firman Tuhan yang orthodoks harus menjadi pegangan bagaimana kita melayani dengan dinamis. Hanya dengan kembali kepada prinsip Firman Tuhan dan penyertaan Roh Kudus memberikan sinkronisasi kepada setiap pelayan Tuhan untuk melayani dengan hati yang kembali kepada Allah.


Mengapa persembahan Habel diterima oleh Allah?

Pertama, konsep Worship Habel bukan dinyatakan dengan separuh hati tetapi totally to God, memberikan semua yang terbaik buat Tuhan. Bagaimana dengan saudara dan saya? Kita telah bertahun-tahun melayani Tuhan bahkan katanya Reformed tapi kita seringkali menjadi orang Reformed yang tidak peka bagaimana kita harus memberikan worship yang terbaik kepada Tuhan. Mari kita berusaha merenungkan sesungguh-sungguhnya makna Worship kita hari ini. Dalam hal ini belajar saja tidak cukup, perlu implementasi lebih konkret dalam hidup kita yaitu integritas hidup membedakan mana benar dan mana salah. Tanpa integritas hidup maka semuanya gagal.

Kedua, tidak hanya cukup belajar menjadi pelayan yang baik namun juga harus belajar menjadi pelayan yang benar. Prinsip Firman Tuhan harus menjadi utama dalam worship kita. Ingatlah bahwa kita adalah ciptaan Allah yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago dei) maka prinsip Tuhan harus diterapkan dalam hidup kita sebagai pelayan-pelayan Tuhan. Selidikilah, jangan-jangan kita adalah para penyembah yang menyembah Tuhan tetapi prinsip Ibadah kita adalah sampah, sehingga mental kita sebagai penyembah juga mental sampah?

Ketiga, rela berubah sesuai Firman Tuhan dan pimpinan Roh Kudus. Jika worship kita salah, kita harus rela berubah dan mensinkronkan diri sesuai dengan Firman Tuhan dan pimpinan Roh Kudus karena hanya melalui Firman Tuhan dan pimpinan Roh Kudus, di situlah ada sinkronisasi prinsip Firman Tuhan. Ikuti perintah-perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya

Keempat, berani serahkan semua buat Tuhan. Habel tahu yg terbaik dan ia belajar memberikan semua buat Tuhan. Ada tidak keberanian itu dalam Ibadah kita semua? Alkitab mencatat bahwa popularitas bukan utama tapi hidup signifikan sesuai dengan rencana kekal Allah, itulah tujuan kita sebagai umat Allah. Apakah saudara berani memberikan semua kepada Tuhan?

(DS, China)

 
Share